Selasa, 17 Februari 2009

Di tepi kesetiaan

Di Tepi Kesetiaan aku telah menjauhinya ketika ‘Umar masih hidup bagaimana mungkin aku berdekat-dekat dengannya ketika ‘Umar telah tiada? -Fathimah binti ‘Abdul Malik- Fathimah mengenang ketika suaminya, ’Umar ibn ’Abdul ’Aziz mulaimemegang amanah kekhalifahan. ”Mungkin ada orang lain yang lebih banyak shalat dan ibadahnya daripada’Umar”, kata Fathimah. ”Tapi aku belum pernah menyaksikan orang yanglebih takut kepada Allah daripadanya.” Pengangkatannya menjadi Amirul Mu’minin memang menjadi sebuah jungkirbalik hidup yang dahsyat bagi ’Umar. Seorang sahabatnya menyaksikanketika di hari-hari ia memangku jabatannya ’Umar memegang sehelai kainseharga 3 dirham dan berkomentar, ”Ini terlalu halus untukku!” Sang sahabat tersenyum. Tapi tak terasa, air matanya meleleh deras. ”Mengapa kau tersenyum?”, tanya ’Umar. Sahabatnya itu menerawang ke arah lain sambil menghela nafas. “Aku ingat saat kau masih seorang pemuda di Madinah“, katanya. “Kaumenganggap ringan terlambat shalat berjama’ah karena masih sibukmenyisir rambut. Dan kau..“ Sahabatnya itu tersenyum lagi, sambilgeleng-geleng kepala seolah geli. “Kau pernah mengatakan saat itu bahwakain seharga 3.000 dirham terasa sangat kasar. Lihat dirimu sekarang!Kau katakan kain seharga 3 dirham sebagai terlalu halus.“ ’Umar ikut tersenyum. Matanya kaca. Fathimah pun mengenang ketika sekali waktu ’Umar duduk di sampingnyakemudian berbisik lembut kepadanya. “Engkau pasti tahu dari mana ayahmumemberimu permata yang kau pakai ini. Oleh sebab itu apakah engkaukeberatan bila permata ini kita taruh dalam sebuah kotak lalu kitamasukkan ke Baitul Maal?“ Fathimah terhenyak. Ia menatap lelaki yang amat dicintainya itu. Dirabanya permata yang menggantung di lehernya itu. Permata itulahsatu-satunya perhiasannya yang masih tinggal. Ia sangat menyayanginya.Permata yang penuh kenangan. Permata itu hadiah ayahnya –sekaliguspaman ’Umar-, Khalifah ’Abdul Malik ibn Marwan di hari pernikahanmereka. “Terlebih dahulu“, kata ’Umar, “Aku akan membelanjakan simpanan BaitulMal yang lain, dan kalau sudah habis barulah akan kugunakan permata ituuntuk kepentingan kaum muslimin.“ Fathimah akhirnya tersenyum. Dibukanya pengait kalungnya. Diserahkannyapermata itu ke genggaman suaminya. Dan ’Umar, dengan tubuhnya yang kinikurus memeluknya tanpa kata. Mesra. Dan lama. Fathimah tahu artinya.Seolah-olah ia mendengar suara lembut ’Umar, ”Terimakasih ataskesetiaanmu padaku di jalan yang mendaki lagi sulit ini. Semoga Allahmempersatukan kita dalam kehidupan yang lebih indah di sisiNya.” Kelak, ketika ’Umar wafat dan adik Fathimah yang bernama Yazid ibn’Abdul Malik menggantikannya sebagai Khalifah, ujian kesetiaan itudatang. Yazid yang tahu perhiasan kesayangan kakaknya membawa kembalipermata itu. Dengan penuh sayang diletakkannya permata itu di genggaman tangankakaknya. Fathimah menggeleng sambil tersenyum. ”Aku telah menjauhinyaketika ‘Umar masih hidup. Bagaimana mungkin aku berdekat-dekatdengannya ketika ‘Umar telah tiada?” Begitu katanya. Source: Buku baru Salim A. Fillah : Jalan Cinta ParaPejuang/Disiplin/ Di Tepi Kesetiaan.. by Pro-U Media 2008

Tidak ada komentar: